Wednesday 21 December 2016

Pentingnya Melakukan Endoskopi Saluran Cerna

Posted by Khaidir
Masyarakat yang memasuki usia 50 tahun dianjurkan untuk melakukan endoskopi pada saluran cerna.
Terlebih bagi mereka yang mengalami muntah-muntah, BAB berdarah, riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker kolon.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi Siloam Hospitals TB Simatupang dr Epistel P Simatupang SpPD KGEH FINASIM FPCP mengatakan, endoskopi dapat mendeteksi adanya kelainan dan masalah di sekitar saluran pencernaan sehingga dapat segera tertangani dengan baik.
"Terpenting lagi dapat terhindar dari kanker kolon yang menjadi penyebab utama kematian di dunia," ujarnya di sela media gathering Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta, Senin (20/12).
Endoskopi sendiri merupakan alat yang digunakan untuk memeriksa saluran cerna secara visual guna mendeteksi adanya berbagai kelainan dan penyakit lainnya.
Dr Epistel menambahkan berdasarkan diameter dan fungsinya, saluran cerna dibagi menjadi dua bagian besar.
Dari kerongkongan sampai usus 12 jari dinamakan saluran cerna bagian atas, sedangkan bagian akhir dari usus kecil hingga anus disebut sengan saluran cerna bagian bawah.
Dengan demikian, lanjutnya, pengamatan menggunakan endoskopi pun dibagi dua.
Apabila saluran cerna bagian atas dikenal dengan esofago gastro duodenoskopi (EGD) sementara saluran cerna bagian bawah disebut dengan kolonoskopi.
Epistel menjelaskan EGD merupakan pemeriksaan di dalam saluran kerongkongan, lambung hingga usus 12 jari.
Pemeriksaan ini untuk mendeteksi adanya kelainan di tiga organ tersebut.
"Namun, paling sering ditemukan adalah kelainan pada lambung, dan penyakit tersering ditemukan adalah kanker," paparnya.
Selain itu, kelainan yang sering ditemukan adalah erosi pada saluran cerna. Ini terjadi karena kebiasaan dari seseorang yang menelan obat tanpa meminum air putih.
Harus diingat, ada beberapa jenis obat yang tidak bisa ke lambung tanpa bantuan air putih.
“Biasanya, erosi tersebut ditandai dengan sulit dan sakit menelan. Hal ini bisa dideteksi dengan menggunakan EGD,” ujarnya.
Endoskopi juga bisa untuk digunakan dalam penanganan, salah satunya masalah tukak lambung yang bisa dihentikan dengan endoskopi.
Ada pula penanganan perdarahan pada saluran cerna.
Dengan endoskopi, membuat penanganan menjadi lebih cepat dan tepat dan biasanya penanganan masalah tersebt dilakukan melalui pembedahan.
Tidak hanya itu, penanganan obesitas juga bisa meggunakan endoskopi.
Caranya, dengan memasukan balon ke lambung lewat endoskopi tersebut. Mereka yang dimasukan balon ini akan merasa kenyang walau makan sedikit.

Pada akhirnya, mereka akan mengalami penurunan berat badan dalam hitungan bulan.
“Di Siloam Hospitals TB Simatupang, tindakan ini berkisar antara Rp 3 juta - Rp 4 juta. Angka ini sangat terjangkau dan jauh dari standar di luar negeri terutama Singapura,” jelas dia.
Epistel menambahkan kolonoskopi adalah suatu tindakan untuk melihat keadaan saluran cerna bagian bawah (SCBB) mulai dari anus hingga bagian akhir usus kecil dengan menggunakan kolonoskopi.
Dibanding EGD, teknik kolonoskopi relatif lebih sulit sehingga untuk menguasai tehnik ini dibutuhkan keterampilan dan pengalaman yang cukup.
Kolonoskopi ini menjadi hal wajib bagi warga Jepang, terutama pada mereka yang berusia di atas 50 tahun.
Sebab, di negara tersebut angka kejadian kanker kolon sangatlah tinggi namun bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolon sebaiknya melakukan pemeriksaan kolonoskopi setiap lima tahun sekali.
“Seperti halnya EGD, kolonoskopi juga bisa melakukan tindakan. Terutama bila terjadinya polip pada saluran cerna. Ini harus segara dihilangkan mengingat polip merupakan cikal bakal terjadinya kanker kolon. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, kolonoskopi biasanya memakan biaya Rp 5-6 juta,” kata Epistel. 
sumber : tribunnews

0 comments:

Post a Comment